Pura Lempuyang

Pura Lempuyang

Tempat Wisata di Bali

Pemandangan Gunung Agung dari Pura Lempuyang.

Pura Lempuyang – Pura Penataran Agung salah satu pura dari kompleks Pura Sad Khayangan. Salah satu titik favorit warga lokal dan turis adalah pura Lempuyang. Pura ini dan Gunung Agung jaraknya dilihat dari peta sekitar 22 km, jauh di luar radius status gunung tertinggi yakni awas. Namun jarak perjalanan darat sekitar 40 km. Di sini juga lokasi favorit pengamatan burung-burung yang sedang bermigrasi tiap tahunnya. Berkendara sekitar 3 jam dari Kota Denpasar menuju Timur Bali, kompleks Pura Lempuyang. Sedikitnya ada 7 pura di sini, paling puncak Pura Pucak Lempuyang Luhur. Pura Lempuyang Luhur di puncak teratas diakses setelah menaiki 1700 anak tangga.ย  Gunung Agung akan nampak dengan puncaknya jika cuacanya cerah dari Gerbang Surga Pura Lempuyang. Walau terlihat cerah di bawah bukit, bisa jadi langsung berkabut saat di pura. Jika langit cerah dan tiba tepat kala sunrise atau sunset akan melihat mentari memberkaskan cahayanya di balik gunung.

Aturan Masuk ke Pura Lempuyang

Saat tiba di jalur masuk, pengunjung harus berhenti di pos yang menyorongkan buku catatan dan tanda terima donasi, tak ditentukan nilainya. Kemudian bertanya apakah sudah membawa kain dan selendang? Jika belum akan disewakan, harganya Rp20 ribu satu stel. Jika perempuan, apakah sedang datang bulan?. Mereka akan membantu memakai kain dan selendang jika tidak tahu cara pakainya. Sementara pura yang menjadi rujukan adalah Pura Penataran Lempuyang yang bisa diakses cukup mudah, sekitar 10 menit berjalan kaki dari pos donasi dan parkir. Jalan menanjak cukup terjal di jalanan aspal. Bisa juga naik motor dan parkir persis di bawah pura jika saat itu tidak ada ritual upacara.

Daya Tarik Pura Lempuyang

Gerbang surga pura lempuyangLangkah pertama saat berada dalam kompleks pura adalah masuk melalui halaman depan atau disebut Nista Mandala. Ini semacam beranda, biasanya di area ini adalah tempat duduk santai saat menunggu ritual dimulai di bagian dalam pura. Gerbang Candi Bentar menyambut, dibuat dari batu alam putih. Jika sudah memasuki gerbang ini diharapkan pengunjung membuang pikiran buruknya dan membuka energi baik untuk mendekatkan diri dengan alam dan Tuhan. Setelah melewati gerbang, ada seorang anak muda desa yang bertugas menyambut dengan memercikan tirta atau air yang sudah dibacakan doa oleh pemimpin persembahyangan di pura ini. Agar pikiran baik terbuka, sekaligus menyegarkan jiwa raga.

Di level tengah ini disebut Madya Mandala, tempat terakhir yang bisa dikunjungi pengunjung yang tidak berniat sembahyang. Di area ini biasanya warga yang bersembahyang menyiapkan sesajen untuk dihaturkan, area tarian dan gamelan jika ada ritual, dan tempat makan bersama jika ada tradisinya. Sementara paling puncak adalah Utama Mandala, lokasi persembahyangan dan pemimpin agama. Nah di area inilah yang menjadi buruan foto. Jika cuaca cerah, kabut tebal tersingkap, puncak gunung telihat di tengah-tengah gerbang Candi Bentar. Kontras bentuknya, puncak segi tiga gunung di tengah frame gapura dengan ukiran indah. Tak sedikit turis yang khusus datang saat erupsi, termasuk erupsi besar dengan percikan api pada November 2017 lalu hanya untuk mengabadikannya di pura ini. Mereka yang tidak mengenal geografi lokasi pura ini pasti kaget melihat orang berpose atau bahkan lompat-lompat saat gunung yang begitu terasa dekat mengepulkan asap tebal.

Larangan di Pura Lempuyang

Sejak tahun 2011 pengelola pura ini memiliki komitmen gerakan anti sampah plastik dengan membuat maklumat tertulis dilarang membuang sampah plastik. Juga ada larangan menebang pohon sembarangan. Maklumat ini dipasang di papan utama berisi peta kompleks pura dan komitmen bertandatangan tokoh masyarakat dan Bupati Karangasem. Botol-botol plastik bekas minuman terlihat dipilah dan ditampung dalam wadah khusus depan warung sekitar pura. Namun tak sedikit dagangan yang masih terbungkus plastik seperti warung lainnya.

Tiap pengunjung, baik sendiri, pasangan, atau rombongan akan dipandu jika akan berfoto. Signature pose yang lalu lalang di media sosial misalnya gaya meditasi duduk dan berdiri, berpegangan tangan, dan melompat. Jumlah pose tergantung panjangnya antrean, jika sedang sepi bisa lebih dari 5 jepretan. Ada enam patung berderet di tiap jalur tangga, ini adalah karakter epos Mahabrata yakni Panca Pandawa dan Krisna. Di antaranya Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa. Semua sosok memiliki karakternya sendiri seperti kebijaksanaan, kemenangan, kekuatan, dan kasih sayang. Beberapa kali ada yang ingin menerbangkan drone tapi diperingatkan karena tidak boleh untuk menjaga kesakralan. Pengunjung yang mengenakan pakaian tanpa lengan pun diberikan syal atau kain rajutan untuk menutupinya. Juga pose ekstrem seperti salto melewati kepala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *